Sunday, February 5, 2017

Sosok Gus Dur dan Pemikirannya tentang Toleransi

 Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Dur adalah presiden RI yang juga mendapat julukan sebagai Bapak Pluralisme. Beberapa kebijakan yang pernah beliau ambil memanglah tidak popular, bahkan banyak di antaranya mendapat tentangan dari berbagai pihak. Namun, tentu saja kebijakan yang diambil merupakan bentuk dukungannya kepada kelompok minoritas yang tertindas. Sebut saja, dengan keluarnya Keppres No. 6/2000, Etnis Tionghoa di Indonesia akhirnya bisa menikmati kebebasan dalam mengekpresikan seni kebudayaan dan kepercayaan yang mereka anut.
Ahmadiyah pun tak luput dari dukungan beliau. Bahkan ada pernyataan yang pernah dia ucapkan sebagai bentuk pembelaan atas keberadaan Ahmadiyah di Indonesia, “Selama saya masih hidup, saya akan mempertahankan gerakan Ahmadiyah.” Sampai-sampai Gus Dur merelakan tempat tinggalnya untuk menjadi tempat berlindung bagi warga Ahmadiyah, jika pemerintah dianggap tidak lagi bisa melindungi mereka. Karena baginya, negara memang haruslah membela hak warga minoritas sesuai konstitusi (UUD 1945).
Walaupun pada kenyataannya hingga hari ini, Ahmadiyah dan warga minoritas lainnya masih hidup memprihatinkan. Mereka masih hidup dalam bayang-bayang ancaman bahkan ada yang sampai terusir dari kampung halamannya sendiri, seperti warga Syiah yang ada di Sampang, Madura.
Pemikiran toleran dan plural yang dimiliki oleh seorang Gus Dur tentu berasal dari perjalanan intelektual yang tidak singkat. Tumbuh dan besar di lingkungan pesantren tradisional Tebuireng (Jombang), Krapyak (Yogyakarta), dan Tegalrejo (Magelang), beliau mempelajari ilmu fikih, tafsir Alquran dan hadis, tasawuf, dan sebagainya. Beliau menemukan prinsip toleransi yang diserap dari hadis Nabi SAW bahwa pencari kebenaran hukum akan mendapatkan dua pahala jika benar dan mendapat satu pahala jika salah. Dari hadis tersebut, dapat digambarkan bahwa Tuhan sangat menghargai para pencari kebenaran, sekalipun mereka salah. Sehingga kita sebagai umat manusia seharusnya menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, bukan malah melakukan pemberangusan.
Pendidikan di pesantren mengajarkan kepada Gus Dur tentang jargon toleransi yang dibawa oleh Al-Syafi’i, “Pendapat kami benar, tetapi mungkin salah. Sedangkan pendapat kalian salah, tetapi mungkin benar.” Kutipan ini menunjukkan bahwa kebenaran pemikiran manusia tidaklah absolut dan tidak seharusnya manusia menganggap dirinyalah yang paling benar, sehingga orang lain dianggap salah dan sesat.
Perbedaan dalam umat Islam adalah sebuah rahmat. Perbedaan bagi Gus Dur seharusnya tidak menyebabkan perpecahan dan permusuhan. Perbedaan merupakan bentuk kasih sayang yang muncul di tengah-tengah ke-bhinneka-an. Prinsip ke-Islam-an ini kemudian berpadu dengan prinsip kebangsaan dalam konsep Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga seharusnya dari sinilah Gus Dur—dan kita semua—tidaklah perlu mempersoalkan perbedaan agama, keyakinan, warna kulit, dan posisi sosial yang ada.
Tidak ada paksaan dalam agama.” (QS. Al Baqarah [2]: 256); “Jikalau Tuhannya menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS. Hud [11]: 119); dan “Untukmu agamamu dan untukku agamamu.” (QS. Al Kafirun [109]: 6) adalah beberapa potongan ayat yang sering digunakan oleh Gus Dur dalam esai-esainya yang bertemakan toleransi. Karena sikap toleran dan plural berakar dari penghayatan ayat-ayat suci Alquran.
Perdamaian dan persatuan yang dicita-citakan Gus Dur didasari pada spirit multikulturalisme yang terdapat dalam Alquran, yaitu “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu Sali kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu, di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat [49]: 13).
Hal inilah yang menjadi prinsip bagi Gus Dur di sepanjang hidupnya untuk terus menentang semua bentuk intoleransi dan kekerasan atas nama agama di muka bumi Indonesia.


Load disqus comments

0 comments