Wednesday, October 4, 2017

MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM - SINAU FILSAFAT

MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM



BAB I
PENDAHULUAN
        Sesudah pemerintahan Abdurrahman II, kekuasaan pemerintahan Dinasti Umayah di Andalusia silih berganti. Andalusia dalam masa 45 tahun sejak masa penaklukannya (711-756 M) dipegang oleh 24 orang gubernur dependen, sehingga rata-rata masa pemerintahannya adalah kurang dari dua tahun. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan Andalusia masa itu masih dalam kegoncangan dan kekacauan. Selama itu, Andalusia terjadi peralihan dari pemerintahan bangsa Goth kepada Bani Umayyah (al-‘Ibadi, 1964:49). Namun, hal itu dapat diatasi oleh al-Dakhil ketika ia berhasil memasuki Andalusia, dan dengan peralihan siasatnya ia dapat mendirikan Bani Umayyah II serta mengatasi konflik dan menyatukan masyarakat Andalusia dibawah kekuasaannya (Lapidus, 1989:380). Setiap pemberontakan dan kerusuhan yang terjadi selalu dapat diatasi oleh Dakhil, seperti menghadapi perlawanan dari al-Fihri, terjadi dua kali di Cordova: pemberontakan Hisham al-Fihri di Toledo dan ancaman-ancaman dari luar, Bani Abbas dan Charmelenge terhadap Andalusia. Semuanya itu dapat digagalkan dan diamankan oleh al-Dakhil (Hitti, 1974:507).
        Selama delapan abad, islam berjaya di bumi Eropa (Andalusia), maka pada saatnya Islam yang pernah membangun peradaban yang cukup gemilang itu harus runtuh dan tersungkur di tanah Eropa. Peradaban Islam yang telah dibangun dengan susah payah dan  kerja keras kaum muslimin itu, harus ditinggalkan dan dilepas begitu saja karena kelemahan-kelemahan yang terjadi di kalangan kaum muslim sendiri, dan karena kegigihan bangsa barat/Eropa untuk merebut dan meruntuhkan peradaban Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
        Pengaruh geografis Andalusia yang terpisah oleh  pegunungan dan sungai-sungai dengan masyarakatnya yang heterogen, tidak memungkinkan sistem pemerintahan sentralisasi yang dibangun oleh Abdurrahman II, maka, digantilah dengan sistem disentralisasi, tetapi ternyata menimbulkan disintegrasi politik. Tiga orang amir, Muhammad ibn Abdurrahman, al-Mundzir, dan Abdullah tidak mampu membendung timbulnya kerajaan-kerajaan kecil. Diantara kerajaan-kerajaan kecil tersebut adalah kerajaan Bani Hujjah di Seville dari suku Arab Yamani, Kerajaan Zu-al nun di Toledo (kemudian hari saat masa kemunduran Bani Umayyah), suku Berber, selatan portugal dan orang-orang spanyol turunan menguasai wilayah Algarave. Penduduk dataran tinggi Elvira di Granada dan penduduk Murcia, serta Kristen di Toledo melepaskan diri dari Amir Abdullah dan beberapa provinsi lainnya dalam wilayah Andalusia menyatakan kemerdekaannya dan tidak lagi mengirim hasil pendapatan daerahnya kepada pemerintah pusat. Amir Abdullah hingga akhir masanya tidak mampu sama sekali menghadapi dan mengatasi krisis yang menimpa Andalusia pada masanya hingga ia meninggal pada 912 M.
        Perlu dicatat, bahwa munculnya Umar Ibn Hafsun yang berasal dari pegunungan Bobastra (tepatnya di Bukit Tolox yang terletak diantara Medina dan Sodonia) dibagian selatan Andalusia. Ia hidup dalam berbagai cara dan tidak konsisten. Riwayatnya dimulai dengan mencuri kambing, maka Hafsun usir anaknya ke Tangier. Setelah ayahnya mati, Umar kembali ke Tolox dan membina kekuatan dengan jumlah sebanyak 40 orang, menjadi ancaman serius bagi empat amir: Muhammad, Mundzir, Abdullah dan al-Nashir. Semasa Abdullah, Umar secara defato menjadi penguasa Andalusia (Rahman, 1975:100-101). Hal ini dapat diatasi Abdurrahman III dikarenakan Umar sudah berusia lanjut. Disamping itu, dan dengan keperkasaanya Abdurrahman mampu mengkonsolidasikan kembali wilayah kekuasaan Umayyah yang sudah hampir musnah, maka selama 20 tahun, awal pemerintahannya semua wilayah Andalusia sudah dapat dikuasainya kembali. Berkat bantuan pasukan Slav yang kuat, sehingga segenap penjuru perbatasan dapat diamankan, dan dengan stabilitas negara yang cukup baik, juga karena khalifah Abbasiah sudah lemah, sementara kekhalifahan Fatimiah di Afrika bersaing kuat--mendorong Abdurrahman III (929 M) menyatakan dirinya sebagai khalifah dengan gelar Amir al-Mu’minin yang telah berhasil menyelamatkan Andalusia sebagai wilayah kekuasaan Umayyah dan menjadikan negeri itu sebagai pusat peradaban Eropa, salah satu pusat peradaban terbesar di dunia. Seperti Konstantinopel dan Baghdad – sehingga Cordova dijuluki sebagai mutiara dunia. Seperti telah diuraikan, bahwa dalam kegiatan ilmiah Andalusia paling jaya semasa Hakam II, namun ia tidak tinggalkan generasi yang mampu dan kuat, menyebabkan setelah ia wafat dan terutama pasca Hajib al-Mansur, Andalusia masuk pada masa kemunduran.
        Hisham ibn Hakam II, masih berusia 12 tahun merupakan orang yang paling berhak mewarisi kekhalifahan ayahnya. Hal ini menyebabkan timbulnya perselisihan di kalangan pejabat tinggi Negara dan orang istana, hingga terpecah menjadi dua kelompok; kelompok militer yang didominasi oleh orang Slav dan orang sipil dengan tokohnya al-Hajib al-Mansur yang didukung oleh menterinya. Sementara pihak militer memandang, Hisham tidak mungkin memimpin dan mengatur Negara karena militer tidak mungkin tunduk dibawah kekuasaannya yang belum dewasa. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa kekhalifahan sebaiknya diserahkan kepada pamannya Hisham, al-Mughirah ibn Abdurrahman al-Nashir. Sementara kelompok sipil mengharapkan kekhalifahan dipegang oleh Hisyam, agar kendali pemerintahan tetap dipegang oleh para penguasa bersama Khalifah Hisham yang kecil itu. Dalam pertentangan kedua kelompok itu, al-Mughirah terbunuh. Diduga kuat, pembunuh itu di dalangi oleh Muhammad ibn Abdullah ibn Amir al-Ma’arifi karena ia telah berhasil merebut jabatan al-Hajib dengan gelar al-Manshur disamping Khalifah Hisham II. Dengan demikian, pihak militer tidak berhasil mengangkat khalifah sesuai keinginannya. Al-Manshur berkuasa (976-1002 M) semasa khalifah Hisham II dan pada masa berikutnya yang menduduki jabatan khalifah adalah anaknya meskipun kekuasaan khalifah seperti boneka al-Manshur dan Sya’roni.
        Pada 609H/1212 M kaum nasrani mengadakan serangan besar-besaran ke Spanyol dengan mengatasnamakan perang suci di Eropa. Mereka dapat menghimpun bantuan sukarelawan persekutuan yang terdiri dari orang-orang Prancis, Jerman, Inggris dan Itali. Serangan tersebut dihadapi oleh khalifah al-Mansur Billah bersama 600.000 tentara di Las Navas de Toloso sekitar 70 mil disebelah timur Cordova. Saat itu pasukan nasrani dipimpin oleh Alfanso VIII, Raja Castile. Dalam peperangan tersebut tentara al-Muwahhidun mengalami kekalahan besar bahkan menyebabkan berakhirnya kekuasaan di Spanyol. Oleh karena itu, satu persatu kekuasaan islam di Spanyol jatuh ke tangan nasrani.
        Militer muslim di Andalusia terdiri dari berbagai suku bangsa seperti Arab (Himyar dan Mudhar), Berber (jumlahnya paling banyak), Mozarab(orang Andalusia asli berbudaya Arab, Mujedar (orang Arab berbudaya Andalusia), Slav, muslim Andalusia, dan suku-suku pribumi yang tidak masuk islam. Setiap kelompok tentara dari suku Arab merupakan tentara cadangan yang dapat ditugaskan pada saat dibutuhkan pemerintah pusat. Masing-masing kesatuan tentara diperbolehkan menggunakan dana dari  daerah pertaniannya masing-masing, sedangkan sisa dana keperluan militer diserahkan ke kas Negara. Kekuatan militer islam yang dimasuki suku-suku selain Arab, terutama keturunan orang Slav yang datang dari Eropa Timur, ditetapkan khusus sebagai tentara pegawai istana amir atau kholifah. Semasa al-Nashir jumlah mereka mencapai ribuan dan pada masa Hajib al-Mansur terjadi perubahan dalam pembentukan militer. Bidang kemiliteran sudah digabung, yaitu terdiri dari suku Arab dan Slav juga dari orang-orang yang berasal dari Berber Afrika Utara yang jumlahnya mayoritas dibanding suku lain. Hal ini karena suku Arab di Eropa diistimewakan dalam masyarakat Spanyol, maka banyak yang tidak tertarik lagi pada bidang militer.   
        Telah disebut, bahwa penyebab kemunduran dan kehancuran kekuasaan islam di Andalusia adalah masih adanya beberapa daerah yang belum dapat diduduki sepenuhnya waktu ekspansi islam  seperti daerah Galicia. Austria bahkan mengadakan hubungan damai dengan mengakui kekuasaan Bani Umayyah. Akhirnya daerah tersebut kemudian dijadikan benteng pertahanan, pelatihan, dan sekolah siasat yang dipersiapkan untuk perlawanan di kemudian hari, dan dari benteng tersebut dikomando upaya untuk memecah belah persatuan dan kesatuan umat islam, bahkan sering menyerang saat ada kesempatan. Perlu diketahui bahwa saat Tariq dan Musa sedang giatnya menaklukan wilayah Andalusia adanya perintah dari Damaskus untuk segera pulang, menyebabkan mereka tidak berhasil menguasai daerah-daerah tersebut, yang terletak di barat laut Andalusia. Kawasan itu akhirnya menjadi pusat Kristen. Austria kemudian berkembang menjadi kerajaan Castile dan Aragon menjadi basis Kristen untuk menyerang kaum muslim dalam rangka mengembalikan daerah kekuasaannya. Unifikasi kerajaan tersebut secara permanen terbentuk pada 1469 M ketika terjadi perkawinan antara Ferdinand, raja Aragon dengan Isabella, raja dari Castile.
        Adapun sebab kemunduran dan kehancuran islam di Andalusia, yaitu para penguasa islam cukup puas dengan menerima upeti dan tidak melakukan islamisasi secara sempurna, bahkan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat kebiasaan kaum nasrani. Sementara kehadiran bangsa Arab menimbulkan rasa iri dan membangkitkan rasa kebangsaan bangsa Spanyol yang Kristen. Selain itu loyalitas militer islam sebagai tentara bayaran sangat diragukan, kedisiplinan mereka mengikuti perintah atasan disesuaikan dengan siapa yang membayar lebih tinggi, maka perpecahan umat islam sebagai anggota masyarakat atau sebagai penguasa tidak dapat dihindarkan. Pribumi Andalusia tidak sederajat dengan bangsa Arab, tetapi tetap diperlakukan sebagai ibad dan muwalladun sehingga dianggap merendahkan. Oleh karena itu, beragama islam tidak menjadi daya tarik bagi rakyat sebagai dasar pemersatu ideologi. Etnis-etnis non Arab sering menjadi perusak dan menggerogoti perdamaian, sehingga mempengaruhi terhadap kondisi perekonomian. Sementara pembangunan bidang fisik untuk keindahan kota dan peningkatan ilmu pengetahuan yang terlalu serius melalaikan  pembangunan bidang perekonomian yang menjadi pendukung persatuan dan kesatuan.
        Peralihan kekuasaan ynag tidak jelas, maka sering terjadi perebutan kekuasaan sesama ahli waris, yang melemahkan dan hilangnya wibawa pemerintah, bahkan mengakibatkan runtuhnya kekuasaan Bani Umayyah dan al-Muluk al-Tawaif muncul, tetapi tetap pula terjadi perebutan kekuasaan diantara mereka. Dinasti-dinasti yang muncul setelah runtuhnya Umayyah II terdiri dari dinasti yang merdeka dan saling bertikai. Penguasa muslim disana, jauh dari pusat islam lain mengakibatkan jauhnya dukungan, kecuali dari Afrika Utara dibatasi laut, sementara darah sekitar adalah daerah yang dikuasai kaum nasrani yang selalu iri dan merasa direndahkan oleh etnis Arab.
        Semasa dinasti Nasr Maula Ali Abi al-Hasan yang berkuasa di Granada merasa cemas dengan unifikasi kerajaan Castile dan Aragon. Akibatnya terjadi perang dingin dengan kaum nasrani. Dengan menghentikan pembayaran upeti terhadap Ferdinand disampaikan dengan ucapan yang sangat menyakitkan, seperti, “sesungguhnya para sultan Granada terdahulu yang membayar upeti itu sudah mati dan lembaga pencetakan uang di Granada tidak lagi mencetak uang, tetapi hanya memproduksi senjata,” bahkan setelah ucapan itu dilakukan disusul dengan serangan sporadic ke benteng al-Sakra yang sudah dikuasai oleh kaum nasrani. Serangan itu mendapat pukulan dari mereka dan salah satu dari panglimanya dapat menguasai bentengal-Hamrah, Granada yang akhirnya menjadi basis penyerangan selanjutnya. Al-Hasan sendiri wafat, diracun anaknya, Abdullah dan kekuasaan dipegang saudaranya, al-Zaghlul.
        Abu Abdullah yang tidak paham konspirasi kaum Kristen berusaha merintangi upaya pamannya, al-Zaghal yang berupaya mempertahankan Granada dan menyatukan kekuatan islam disekitarnya. Ketika itu, kaum nasrani semakin mendekati dan mengepung Granada sehingga satu persatu benteng Granada—Alora, Qosr Bonila, Ronda dan benteng Loja, Almeria, Malaga, dan kota-kota lain dibagian barat Granada—jatuh ketangan nasrani. Perlawanan pasukan al-Zaghal terhadap pasukan Ferdinand cukup kuat, sehingga kemenangan dan kekalahan silih berganti bagi masing-masing pihak. Namun ketika pasukan Ferdinand datang dengan kekuatan yang sangat besar maka al-Zaghal dengan sekuat tenaga melawan pasukan, yang akhirnya ia putus asa karena tidak memperoleh bantuan dari Afrika Utara karena disan ajuga terjadi perang saudara dan terpaksa menyerahkan diri di bentengnya yang terakhir di Almeria. Kemudian ia mengungsi ke Tillimsan, Maroko dan disana ia wafat. Sebelumnya, Abdullah yang terkenal dengan Boabdil ingin merebut kembali kekuasaannya dari tangan al-Zaghal, maka ia memohon bantuan dari Ferdinand dan Isabella dan berhasil merebut kekuasaan. Boabdil mendapat peringatan keras dari Ferdinand agar segera menyerah dengan berbagai persyaratan yang telah dipersiapkannya, tetapi Abdullah meminta tuntutan itu di tangguhkan. Ferdinand menolak dan segera menyerang agar segera dapat menguasai Granada dari arah Timur.
Abdullah maju ke medan tempur bersama panglima perangnya yang gagah berani. Ia menegaskan sikapnya yang pantang mundur kepada utusannya yang dikirim menghadap Ferdinand. Jika Ferdinand ingin mengambil senjata dari kaum muslim, silahkan datang sendiri untuk merebutnya dari tangan mereka. Pada tahun 1490 M, Ferdinand mengirim pasukannya untuk menghancurkan pasukan islam, tetapi Abdullah dan pasukannya langsung terjun ke medan pertempuran dengan gagah berani. Penduduk Granada pun datang membantu pasukan muslim sehingga kemenangan berada dipihak kaum muslim dan beberapa benteng dapat direbut kembali. Pada tahun 1491 M Ferdinand bersama Isabella melibatkan diri bersama 50.000 personil dengan mendengungkan perang suci. Ketika mendekati pintu gerbang Granada, panglima perang menegaskan kepada pengawal pintu bahwa kita akan menutup pintu dengan jasad kita bertempur untuk mempertahankan tanah yang kita injak masing-masing. Karena, jika tanah ini kita lepas akan kehilangan segalanya. Seruan ini membangkitkan semangat tempur pasukannya, sehingga Ferdinand mendapat kesulitan dalam mengalahkan pasukan kaum muslim. Tetapi, ia mengepung dan memblokade pasukan islam agar kelaparan. Apalagi di musim dingin yang penuh salju telah tiba, maka keadaan kaum muslim menjadi kritis. Boabdil menyerah atas desakan penduduk Granada yang kelaparan dan kedinginan. Sementara Panglima Musa menolak untuk menyerah dan terus bertempur melawan pasukan Ferdinand, dan akhirnya mati terbunuh. Abdullah bersama keluarga pindah ke Maroko dan tinggal di Fez. Granada  (2 Januari 1492 M) dapat dikuasai kaum nasrani dengan masuknya pasukan Castile. Denagn demikian , “salib dapat menyingkirkan bulan sabit.”
        Amir Ali mencatat, orang muslim yang menyinari bangsa Goth di Spanyol selama berabad-abad yang membawa kemajuan luar biasa, kini tenggelam dalam kegelapan setelah mereka mengusir islam secara total, bagikan angsa yang selama ini menelorkan emas, dibunuh, maka berhenti telor emas. Yang dimaksud adalah kejayaan, kemajuan peradaban, dan pembangunan moril maupun materi. Demikian juga sejarawan Spanyol, Conde, islam yang memberi status Eropa yang gelap menjadi maju, setelah islam lenyap dari kemajuan dan pencerahan tenggelam pula dalam kegelapan.  
BAB III
PENUTUP
Sebab-sebab yang melatarbelakangi  runtuhnya agama islam di Andalusia antara lain:
Ø  Pengaruh geografis Andalusia yang terpisah oleh pegunungan dan sungai-sungai dengan masyarakatnya yang heterogen.
Ø  Masih adanya beberapa daerah yang belum dapat diduduki sepenuhnya waktu ekspansi islam seperti daerah Galicia.
Ø  Adanya para penguasa islam yang cukup puas dengan menerima upeti dan tidak melakukan islamisasi secara sempurna, bahkan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat kebiasaan kaum nasrani.
Ø  Adnya peralihan kekuasaan yang tidak jelas, maka sering terjadi perebutan kekuasaan sesame ahli waris, yang dapat melemahkan dan menghilangkan wibawa pemerintah.
  
DAFTAR PUSTAKA
M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Jogyakarta: Pustaka    Book   Publiser, 2007.
Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Jalil Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: C.V Pustaka Islamika, 2008.                                                    


Load disqus comments

0 comments